Gosok Gigi
Saya sangat yakin dua kata diatas sudah mendarah daging dalam diri kita masing-masing, dan sulit sekali dilepaskan dari kehidupan kita bahkan seluruh kehidupan masyarakat modern. Artinya bahwa dua kata itu sudah menyatu dalam kehidupan kita semua. Bahkan sekali saja kita tidak melakukan dua kata tersebut, rasanya aneh bagi kita. Mulut terasa tidak enak, dan kalau berinteraksi dengan orang lain kita kita menjadi tidak PD, karena kawatir bau mulut menyengat akan keluar dari mulut kita.
Pernahkah anda iseng flash back untuk mencari tahu bagaimana itu bisa terjadi? Bagai mana “gosok gigi” bisa menjadi kebiasaan yang mendarah daging? Mungkin kita mengalami kesulitan untuk mencari tahu bagaimana dan mengapa itu bisa terjadi pada diri kita masing-masing. Tapi mungkin tidak akan terlalu sulit kalau kita lihat anak kecil (mungkin anak anda sendiri) bagaimana dia bisa mempunyai kebiasaan gosok gigi itu. Dan bagaimana sulitnya anda menanamkan kebiasaan gosok gigi itu ke anak anda. Mungkin tidak banyak orang tua yang dengan mudahnya bisa menanamkan kebiasaan itu kepada anaknya. Saya pernah secara iseng pula menanyakan kepada teman-teman saya yang mempunyai anak kecil yang sudah mempunyai kebiasaan gosok gigi sendiri. Mayoritas mereka menjawab adalah dengan proses sedikit pemaksaan. Artinya jarang sekali yang dengan sukarela begitu disuruh langsung mau untuk melakukannya. Pasti disana ada unsur “pemaksaan” walaupun kadarnya berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya.
Saya kebetulan mempunyai anak yang bulan ini berusia 3 tahun, yang sampai saat ini pun kami orang tuanya harus selalu mengeluarkan energi kalau mau nyuruh dia gosok gigi, terutama gosok gigi sebelum tidur, susahnya minta ampun. Saya, istri atau pengasuhnya di rumah pasti harus menggunakan jurus-jurus tertentu agar dia mau menggosok gigi sebelum tidur walaupun pada akhirnya mau juga. Banyak yang sudah kami lakukan untuk mendidik dia agar mau untuk gosok gigi, membelikan dan membacakan buku cerita yang berhubungan dengan gosok gigi, membeli film kartun yang juga ada hubungannya dengan gosok gigi, memberikan contoh-contoh riil dari teman-temannya di sekitar rumah yang giginya keropos dan lain-lain. Tetap juga harus punya ekstra energi dan variasi cara untuk membujuk.
Gosok gigi adalah sebuah kegiatan positif, aktifitas ini kalau kita lakukan berulang-ulang maka akan menjadi sebuah kebiasaan, dan kebiasaan yang berulang-ulang dan dilakukan secara bersama-sama ini akan menjadi sebuah budaya. Kegiatan yang positif belum tentu membuat nyaman sebagian orang, karena mungkin kegiatan tersebut harus merubah kebiasaan lamanya atau bahkan bertentangan dengan kebiasaan lamanya yang sudah dianggap nyaman oleh orang tersebut. Kalau dalam edisi 003 lalu saya menyebut dengan istilah comfort zone. Orang yang sudah berada dalam comfort zone kebanyakan akan menjadi resisten dengan kegiatan-kegiatan lain, sekalipun kegiatan-kegiatan itu positif dan untuk kemajuan dan ketertiban bersama. Untuk anak kecil mungkin menerapkan perubahan dengan cara di paksa, tapi ternyata untuk orang dewasapun banyak yang harus dipaksa juga. Salah satu contoh sederhana adalah kebiasaan membuang sampah pada tempatnya yang harus dengan dipaksa ada denda kalau membuang sembarangan.
Lalu bagaimana penerapannya dalam lingkungan perusahaan? Bagaimana perusahaan-perusahaan besar bisa berdiri kokoh hingga sekarang dan disegani oleh perusahaan-perusahaan lain? Banyak referensi buku mengatakan bahwa perusahaan itu dibagun dengan kultur yang kuat dan bisa dibanggakan oleh setiap karyawan yang bekerja di dalamnya. Dan ketika ditanya lagi bagaimana AWAL MULA kultur itu bisa dibentuk?
Apakah berawal dari pemimpin yang hebat? Ternyata bukan. Apakah berawal karena kecanggihan teknologi di perusahaan tersebut? Bukan juga. Apakah karena karyawannya pendidikannya tinggi-tinggi? Bukan juga, pedidikan tinggi tidak menjamin terbentuknya budaya yang kuat dan positif. Lalu apa?
